Informasi Jadwal Agenda Kegiatan Terkini

Memori Kaum Marjinal: Pendekatan Konstitusional terhadap Pengecualian, Marjinalisasi, dan Stigmatisasi

Republikasi dari Springer Nature

Judul Asli: Memory of the Marginals: The Constitutional Approach to Exclusion, Marginalization, and Stigmatization
Penulis: Martin Belov & Mirosław Michał Sadowski

Abstrak:

Artikel ini mengkaji fenomena kaum marjinal—yakni kelompok yang secara institusional dikecualikan atau secara simbolis dikeluarkan dari komunitas sosial-politik yang didefinisikan secara konstitusional. Artikel ini menyelidiki dinamika ganda antara integrasi dan disintegrasi, dengan mengeksplorasi strategi, mekanisme, dan instrumen yang dapat mendorong inklusi atau, sebaliknya, melanggengkan eksklusi, marjinalisasi, dan stigmatisasi. Seluruh proses tersebut tertanam dalam teks konstitusi, memori kolektif, dan narasi yang mewujud melalui konstitusionalisme tekstual, visual, dan performatif.

Dengan menggunakan perspektif sosial-legal dan imajinari-konstitusional (constitutional-imaginary), studi ini menekankan bahwa praktik eksklusi tidak hanya muncul melalui mekanisme formal, tetapi juga melalui praktik simbolik yang merendahkan dan menstigma, sehingga membentuk imajinari (bayangan kolektif) konstitusional yang eksklusif. Sebaliknya, artikel ini juga menyoroti imajinari inklusi untuk memperlihatkan implikasi luas dari dinamika inklusi/eksklusi terhadap marjinalisasi yang mengakar.

Salah satu fokus utama adalah peran strategi dan imajinari konstitusional eksklusif dalam membentuk politik memori konstitusi. Melalui imajinari tersebut, kelompok marjinal diberi label, sehingga tercipta batas-batas simbolik tentang “ke-lain-an” dan “ketak-termasukan” yang meresap ke dalam kerangka hukum maupun persepsi masyarakat. Artikel ini menganalisis perangkat institusional dan simbolik yang digunakan untuk menggambar batas-batas tersebut, berlandaskan pada imajinari konstitusional dan memori kolektif, dengan merujuk pada karya para sarjana seperti Belov, Přibáň, dan Komárek. Kajian ini menelaah bagaimana perangkat tersebut meminggirkan kelompok tertentu dan menghilangkan legitimasi mereka untuk berpartisipasi dalam tatanan sosial-politik.

Analisis dimulai dengan menguraikan strategi-strategi disintegrasi sosial yang bersifat deliberatif, seperti marjinalisasi dan stigmatisasi konstitusional, kemudian secara singkat membahas peran tradisional konstitusi sebagai kerangka rasional dan integratif. Sambil mengakui mekanisme integratif demokrasi yang telah banyak dikaji—seperti mekanisme elektif, deliberatif, partisipatif, dan langsung—artikel ini mengasumsikan pembaca telah familiar dengan konsep tersebut dan memilih berfokus pada padanan sebaliknya: model, proses, dan instrumen disintegrasi konstitusional. Disintegrasi parsial melalui eksklusi dan stigmatisasi pun muncul sebagai tema sentral.

Studi ini juga memposisikan konstitusi sebagai sebuah “proyek memori” yang menjembatani hukum dan politik. Pembahasan mencakup memori kolektif dan strategi “penghapusan eksklusif,” serta imajinari konstitusional retrospektif yang memperkuat marjinalisasi. Termasuk di dalamnya adalah pembahasan mengenai memori transisional dan politik memori, yang memperlihatkan bagaimana eksklusi di masa lalu membentuk narasi konstitusional masa kini.

Pada bagian akhir, artikel ini memperbandingkan imajinari konstitusional inklusi dan eksklusi melalui dua studi kasus. Pendekatan ini memberikan konteks terhadap kerangka teoretis, mengaitkan konsep-konsep abstrak dengan contoh empiris. Dengan demikian, studi ini tidak hanya mengkritik mekanisme marjinalisasi, tetapi juga menegaskan potensi imajinari konstitusional untuk mendorong inklusi, menawarkan perspektif yang lebih bernuansa mengenai ketegangan yang terus berlangsung antara integrasi dan disintegrasi dalam tatanan konstitusional.

Untuk membaca artikel secara utuh silakan kunjungi tautan berikut: https://doi.org/10.1007/s11196-025-10403-8

Editor: Andrianor