Ringkasan:
● Safari Natal GUSDURian Cirebon memperkuat toleransi lintas iman melalui perjumpaan langsung di Biara Santa Maria.
● Suster Ursulin merawat keberagaman melalui konsistensi pelayanan pendidikan dan keramahan sosial sejak tahun 1933.
● Toleransi sejati terwujud melalui kerja sederhana perempuan dalam menghadirkan rasa aman bagi sesama.
Oleh: Fuji Ainnayah | Republikasi dari GUSDURian
Pada Kamis, 25 Desember 2025, Komunitas GUSDURian Cirebon bersama sejumlah komunitas lainnya kembali menggelar kegiatan tahunan Safari Natal. Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan ke beberapa gereja di wilayah Cirebon sebagai bentuk silaturahmi dan praktik toleransi lintas iman.
Safari Natal dimulai pada malam 24 Desember 2025 dengan kunjungan ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamitran Cirebon. Keesokan paginya, kami melanjutkan kunjungan ke Gereja Santo Yusuf, kemudian ke Biara Santa Maria, dan ditutup di Gereja Bunda Maria.
Setelah mengunjungi Gereja Santo Yusuf, rombongan Safari Natal melanjutkan perjalanannya ke Biara Santa Maria. Ini kali pertama kami berkunjung ke Biara Santa Maria. Di tempat ini, pengalaman kami beralih dari sekadar kunjungan biasa menjadi perjumpaan yang sangat berkesan. Pintu Biara Santa Maria terbuka lebar, dan para suster sudah berdiri di depan, menyambut dengan ramah dan senyum hangat. Tanpa banyak kata yang terucap, kami dipersilakan masuk dan duduk. Berbagai hidangan sudah tertata rapi di meja-meja. Tidak ada pertanyaan tentang latar belakang identitas keagamaan.
Pagi itu, Biara Santa Maria mengadakan open house; pintunya terbuka bagi siapa pun yang datang, tanpa mempersoalkan identitas, asal, maupun agama.
Biara Santa Maria
Biara Santa Maria ini tidak semata-mata ramah pada saat pagi itu saja. Biara ini sudah ada sejak lama, bahkan akan menginjak usia satu abad.
Berdasarkan informasi dari situs santamariacrb.blogspot.com, Biara Santa Maria hadir sejak 23 Juni 1933, ketika para suster Ursulin menetap di Cirebon di alamat yang sekarang dikenal sebagai Jl. Sisingamangaraja. Pada 28 Juni 1933, biara itu diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Gourman, Prefek Apostolik dari Bandung.
Kehadiran mereka awalnya hanya karena tanggung jawab mengurus pendidikan di Paroki Santo Yosef, termasuk SD Katolik yang sudah ada saat itu. Pada tahun 1935, para suster mendirikan sekolah baru yaitu taman kanak-kanak dan sekolah dasar bernama Maria School, yang merupakan bagian dari karya pendidikan mereka di Cirebon.
Menariknya, Biara Santa Maria ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang penting. Oleh karena itu, bentuk bangunan dan tata ruangannya tetap dipertahankan sebagaimana aslinya, tanpa ada perubahan struktur, kecuali pengecatan ulang.
Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa Biara Santa Maria Cirebon sudah hadir sejak lama, dari 90 tahun sebagai komunitas yang religius sekaligus institusi pendidikan di kota Cirebon. Kehadiran mereka bukan hanya mencatat sejarah, akan tetapi menunjukkan bagaimana kerja-kerja perempuan merawat toleransi, pendidikan, dan keberagaman di ruang sosial Cirebon.
Perempuan dan Kerja Merawat Toleransi
Keramahan yang kami dapatkan saat di Biara Santa Maria tidak lepas dari peran para suster sebagai perempuan. Mereka hadir bukan hanya sebagai figur yang di depan panggung toleransi, akan tetapi mereka juga menjaganya melalui perjumpaan. Menyambut tamu, menyiapkan hidangan, dan memastikan semua orang yang datang merasa diterima merupakan salah satu bentuk merawat. Namun, kerja-kerja semacam ini jarang mendapat sorotan, padahal justru inilah yang menjaga kebersamaan.
Dalam kerja-kerja yang nampak sederhana itulah toleransi dirawat. Bukan hanya pada perdebatan dan penegasan identitas, melainkan tindakan kecil sehari-hari yang membuat aman.
Kerja-kerja merawat toleransi itu lahir dari ritme kehidupan sehari-hari yang dijalani para suster. Sejak dini hari, aktivitas para suster ini sudah diisi oleh doa, meditasi, dan beribadat yang kemudian berlanjut pada aktivitas di bidang pendidikan dan pelayanan. Rutinitas inilah yang membentuk kedisiplinan sekaligus ketenangan yang terlihat dari cara mereka berinteraksi dengan siapa pun yang datang.
Doa, ibadah, meditasi, berbincang bersama, dan kemudian makan. Semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Dari ritme kehidupan sehari-hari yang teratur itulah lahir sikap terbuka dan penuh perhatian. Keramahan yang kami dapatkan di Biara Santa Maria tentunya bukan karena dibuat-buat pada acara tertentu, akan tetapi semuanya terbentuk karena konsistensi mereka.
Refleksi Penutupan
Pengalaman singkat ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang toleransi. Toleransi ini tidak hadir dalam bentuk kampanye besar yang harus disuarakan dengan lantang. Toleransi hadir dalam momen-momen kecil yang luput kita sadari dan luput dari perhatian. Praktik-praktik sederhana yang kemudian menjadi sesuatu yang sangat bermakna.
Dari Safari Natal itu, saya bukan hanya membawa pulang pengalaman kunjungan lintas iman saja, tetapi juga membawa pemahaman tentang bagaimana perempuan juga hadir, dan ikut merawat toleransi lewat kerja-kerja keseharian yang kerap tidak terlihat, tetapi menjadi peran penting dan layak kita ingat.
Dari perempuan ke perempuan dan untuk perempuan lainnya, mari saling merawat keberagaman melalui hal-hal sederhana di sekitar kita. Membuka ruang, menjaga perjumpaan, dan menghadirkan rasa aman bagi semua orang.
Editor: Andrianor










Leave a Reply