Ringkasan:
● Pemaknaan rahmatan lil ‘alamin yang antroposentris berkontribusi pada abainya tanggung jawab ekologis.
● Krisis ekologis merupakan dampak eksploitasi alam yang mengabaikan etika dan keberlanjutan lingkungan.
● Islam Kosmik menawarkan kesalehan ekologis yang menautkan relasi Tuhan, manusia, dan alam secara setara.
Oleh: Noer Fahmiatul Ilmia (Staf ISIF dan Gusdurian Cirebon) | Republikasi dari ISIF
Selama ini, konsep Islam rahmatan lil ‘alamin masih sering berputar pada makna habluminannas. Pemaknaan ini cenderung antroposentris karena lebih menekankan hubungan antarmanusia, seperti toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Padahal, dalam frasa “rahmatan lil ‘alamin” terkandung kata ‘alam yang, jika mengutip Syarif Sayyid Al-Jurjani, bermakna segala sesuatu selain Allah.
Karena itu, perlu dipahami bahwa yang termasuk selain Allah bukan hanya manusia, melainkan juga tumbuhan, hewan, dan seluruh unsur alam semesta, baik di bumi maupun di langit. Salah satu contoh bentuk manifestasi dari inkonsistensi kita dalam memahami “ rahmatan lil ‘alamin” yang hanya fokus pada konsep antroposentris adalah bencana ekologis yang terjadi dalam waktu belakangan ini.
Pemberitaan mengenai banjir dan longsor di Pulau Sumatera—yang melanda Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Tapanuli Utara, hingga Kota Medan—kerap berlalu tanpa kepedulian yang memadai. Padahal, jika mengutip pernyataan Direktur Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocy Pasaribu, dalam harian Tempo menyatakan, “Dalam tiga dekade terakhir, inilah bencana dengan dampak terluas dan jumlah kejadian terbanyak dalam satu waktu.”
Penyebab Bencana Ekologis
Jika dilihat lebih jauh, bencana ekologis ini bukanlah bencana alam murni melainkan ada sentuhan keserakahan manusia. Jika ditelisik lebih dalam, berbagai aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan secara masif dan tidak berkelanjutan telah memperparah kerentanan lingkungan di wilayah tersebut. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa kerusakan ekologi tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kebijakan dan kepentingan ekonomi yang mengabaikan daya dukung alam.
Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), pada periode 2016–2025 tercatat sekitar 1,4 juta hektare hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami deforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin. HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM. Kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan frekuensi dan intensitas bencana ekologis seperti banjir, longsor, serta krisis air bersih yang kini semakin sering dirasakan oleh masyarakat setempat.
Hilangnya tutupan hutan tidak hanya merusak keseimbangan ekosistem, tetapi juga merusak ruang hidup satwa dan menghilangkan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, sehingga risiko bencana semakin tak terbendung. Karena masifnya laju deforestasi inilah, kita perlu merefleksikan kembali fenomena yang sedang terjadi dan mereaktualisasi konsep Islam rahmatan lil ‘alamin yang memiliki kesadaran akan Islam kosmik bukan hanya Islam antroposentris atau Islam teosentris.
Hubungan antara Manusia dengan Alam
Jika kita lihat, hubungan antara manusia dengan alam masih pada tahap evolusi yang etis. Karena manusia masih memposisikan alam sebagai objek eksploitasi dan manusia sebagai subjek superior yang memiliki pandangan superioritas atas alam itu sendiri. Hal ini memicu eksploitasi besar-besaran, deforestasi, serta penambangan dan pemanfaatan alam sebagai komoditas yang hanya menyejahterakan kaum kapitalis. Paradigma ini pada akhirnya menjadikan manusia sebagai Homo Economicus Materialis.
Pertentangan cara pandang tersebut menunjukkan adanya jurang filosofis dalam memahami manusia di tengah ekosistem. Dari paradigma yang menempatkan alam semata sebagai komoditas ekonomi, muncul kebutuhan akan perspektif alternatif yang lebih etis dan berkelanjutan.
Dalam konteks inilah pemikiran Hendryk Skolimowski, filsuf asal Polandia, menjadi relevan. Ia memiliki pandangan yang sejalan dengan kebutuhan akan hubungan alam dengan manusia. Menurutnya manusia adalah Homo Ecologicus, makhluk yang memiliki hubungan erat dengan alam. Oleh karena itu, manusia tidak bisa dipisahkan dengan alam. Filsafat ekologi ini menekankan pentingnya membangun kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam sebagai fondasi kehidupan bersama.
Jika ditelaah lebih dalam, filsafat ekologi ini memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Islam. Islam tidak hanya mengajarkan nilai-nilai ketuhanan tetapi juga memberikan pedoman terhadap umatnya untuk mampu memakmurkan bumi. Meskipun Islam sebagai ajaran yang turun dari langit, bukan berarti menafikan sesuatu yang ada di bumi, sehingga manusia bebas melakukan aktivitas yang ia kehendaki di bumi.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al-Quran QS. Ar-Rum (30):41, yang menyatakan bahwa kerusakan baik di bumi dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntutan ajaran Islam. Sehingga Allah menghendaki agar mereka merasakan akibat perbuatan buruk manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar dan kembali sesuai fitrahnya.
Islam Kosmik
Wacana Islam Kosmik merupakan suatu gagasan yang disampaikan oleh Muhammad Al-Fayyadl, aktivis Front Nasional untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Ia menyebutkan bahwa Islam kosmik sebagai keberislaman dan korelasinya dengan kesadaran dan keberpihkan pada lingkungan hidup. Ini juga merupakan upaya cara memandang Islam bukan hanya sebagai ritual ibadah saja, melainkan sebagai tanggung jawab untuk menjaga alam semesta. Sehingga tercipta keharmonisan antara manusia dengan Tuhan dan alam.
Islam Kosmik sebagai upaya menyatukan antara Tuhan, manusia, dan alam. Karena ketiganya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Hubungan ketiganya, seperti yang terjadi saat ini, telah tereduksi oleh cara pandang antroposentris, yang memandang manusia sebagai subjek atau aktor utama dalam kehidupan ini, dan selainnya hanyalah sebagai instrumen kebutuhan manusia saja. Oleh karena itu, Fayyadl mengatakan bahwa diperlukan koeksistensi dan koevolusi keberislaman manusia dan alam sebagai sesama hamba dan ciptaan Allah Swt.
Kesalehan dan ketakwaan dalam Islam Kosmik bukan berdasarkan ibadah akumulasi untung-rugi. Sebaliknya, ia berangkat dari kesadaran eksistensial yang setara antara manusia dan alam di hadapan Allah Swt. Sebab, keduanya sama-sama hidup dan bergerak dalam satu kosmos yang saling terhubung.
Menjaga alam berarti menjaga hubungan baik dengan Allah Swt, Tuhan semesta alam, juga sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada-Nya, sekaligus mengubah kesalehan ekologis dalam praktik keberislaman. Dalam kerangka ini, Islam Kosmik memaknai keberislaman sebagai upaya memikirkan alam bukan sekadar sebagai objek, melainkan sebagai subjek kosmos yang turut menjadi bagian dari gerak kehidupan di muka bumi.
Di akhir tulisan ini, marilah kita merenungkan kembali keberagamaan kita agar tidak berhenti pada kesalehan spiritual semata, melainkan berkembang menjadi kesalehan ekologis. Kesalehan yang tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah kepada Allah Swt. atau amal saleh kepada sesama manusia, melainkan juga dalam tanggung jawab etis untuk menjaga dan merawat alam sebagai bagian dari amanah kehidupan. Sehingga kita tidak hanya mewujudkan Islam yang rahmatan linnas namun benar-benar rahmatan lil ‘alamiin .
Tabik!
Editor: Andrianor










Leave a Reply