You are currently viewing Pegiat Lintas Iman Garut Komitmen Lawan Intoleransi

Pegiat Lintas Iman Garut Komitmen Lawan Intoleransi

Sejumlah pegiat keberagaman dari berbagai komunitas agama, kepercayaan, organisasi kepemudaan (OKP) dan mahasiswa di Kabupaten Garut gelar diskusi bertajuk ‘Harapan dan Pengelolaan Keberagaman di Indonesia’ di Gereja Kristen Pasundan (GKP), Kabupaten Garut, Selasa (26/03/2024).

Diskusi ini dilandasi dari permasalahan keberagaman yang memiliki dua sisi yang berbeda di tengah hiruk pikuk kehidupan sosial.

Keberagaman menjelma menjadi potensi sekaligus menjadi tantangan. Di Satu sisi, keberagaman adalah anugerah, berwarna karena corak perbedaan, sehingga menjadi aset yang tidak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia.

Di sisi lain, keberagaman yang berlimpah menjadikan Indonesia bangsa yang kompleks dan rentan akan perpecahan. Banyaknya perbedaan di tengah masyarakat membuat konflik primordialisme dan diskriminasi sosial yang rawan menimbulkan terjadi adanya gesekan. Berbagai kesenjangan atau konflik yang terjadi menjadi tanda keberagaman menjadi tantangan.

Banyak tantangan keberagaman yang dipicu oleh perbedaan, tidak hanya dalam kehidupan sosial masyarakat luas, tetapi sering kali tumbuh subur di lingkup masyarakat kecil. Di Kabupaten Garut, keberagaman menjadi tantangan yang nyata.

Politisasi agama menjadi menjadi salah satu penyebab dalam memperburuk kehidupan sosial antar sesama

Oleh karena itu, Koordinator Solidaritas Jaringan Antarumat Beragama dan Kepercayaan (Sajajar), Usama Ahmad Rizal mengatakan, forum diskusi lintas iman seperti ini sangat penting dan diharapkan mampu merespons kondisi sosial dan politik di mana agama kerap disalahgunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan.

“Politisasi agama yang berujung pada tindakan intoleransi turut memperburuk kualitas demokrasi dan merongrong kebhinnekaan yang ada di Indonesia” kata Rizal.

Adanya relasi sosial yang belum selesai di masyarakat seringkali menjadi sumber perpecahan di tengah keberagaman.

“Terciptanya ruang interaksi yang inklusif ini menjadi modal sosial yang besar untuk menciptakan narasi damai yang mengandung muatan toleransi beragama. Terutama jelang Pilkada 2024” ujar Rizal.

Rizal menuturkan, berdasarkan data yang dihimpun oleh Sajajar setidaknya sudah ada 10 kasus intoleransi yang terjadi di Garut dan Tasikmalaya dalam rentang waktu dua tahun terakhir. Dari jumlah kasus yang terjadi, kejadian intoleransi meningkat seiring adanya kontestasi politik.

“Hampir disetiap momen Pemilu, terutama Pilkada, selalu muncul kasus intoleransi atas nama agama. Ironisnya negara turut jadi aktor pelaku pelarangan pembangunan rumah ibadah,” tuturnya.

Padahal, menurut Rizal, seharusnya negara menjamin dan berkewajiban menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak warga negara seperti yang tertuang dalam Undang-undang 1945.

Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Merawat Keberagaman

Seiring munculnya konflik yang terjadi akibat perbedaan, selain karena jauh dari perhatian pemerintah, bisa terjadi karena masyarakat tidak menjaga kebragaman tersebut, padahal peran aktif masyarakat seperti Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dibutuhkan dalam merawat kehidupan masyarakat yang majemuk.

Hal ini dapat membantu mengurangi diskriminasi, intoleransi, konflik sosial, dan politisasi identitas yang dapat menghambat proses pembangunan yang inklusif dan harmonis.

Aktivis Keberagaman Hilwan Fanaqi, mengungkapkan Organisasi Masyarakat Sipil atau Civil Society Organization memliki peranan penting dalam menjaga keberagaman. Organisasi masyarakat sipil juga bertanggung jawab untuk mengurangi konflik sosial dan politisasi yang dapat mengganggu proses pembangunan yang inklusif dan harmonis.

“Pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman dan kemajemukan, perbedaan dapt kita anggap sebagai kekayaan dan sumber daya untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan damai,” ungkap Hilwan.

Hilwan menjelaskan, berbagai pendekatan dapat dilakukan masyarakat sipil sebagai upaya merawat keberagaman. Di antaranya melalui pendekatan pendidikan dan kesadaran nilai-nilai yang berbeda, dialog dan diskusi lintas iman, pengembangan komunitas, pemberdayaan dan partisipasi masyarakat serta pencegahan konflik.

“Peran Organisasi Masyarakat Sipil sebagai perwakilan yang dapat membantu masyarakat menghadapi perbedaan budaya, tradisi, dan agama. Dengan berbagai upaya pendekatan dan cara, masyarakat sipil dapat membantu masyarakat menghadapi keberagaman dengan toleransi, inklusifitas, dan demokratis,” kata Hilwan.

Komunitas sebagai Ruang Aktualisasi Orang Muda

Diskusi Lintas Iman merupakan forum yang dilakukan oleh komunitas-komunitas di masyarakat dalam mendorong dialog dan kerja sama antara penganut agama dan keyakinan yang berbeda.

Giat diskusi ini diinisiasi oleh Fatayat Garut dengan Jisra-PW Fatayat Jawa Barat, bersinergi bersama komunitas lintas Iman di kabupaten Garut.

Semua komunitas agama terlibat dalam keberlangsungan acara tersebut. Dari kalangan muda sampai lansia bersatu padu dalam giat keberagaman ini. Hal ini dikarenakan, semua generasi berperan dalam terciptanya keharmonisan antar sesama.

Selain itu, Giat acara diskusi terlaksana karena terdapat peran aktif orang muda yang tergabung dalam Youth Interfaith Garut, sebagai komunitas kalangan muda lintas iman di Kabupaten Garut.

Ketua Youth Interfaith Garut, Chotijah Fanaqi menjelaskan, terselenggaranya kegiatan bertujuan sebagai ruang aktualisasi diri, wadah silahturahmi antar sesama, khususnya bagi orang-orang muda di bulan Ramadan.

Hal itu selaras dengan tema Ramadan in Harmony and Brotherhood, Di mana terdapat beragam rangkaian acara seperti halnya diskusi interaktif, bakti sosial dan buka bersama.

“Sebagai ruang untuk mengaktualisasikan keimanan kita sebagai sesama manusia di bulan Ramadan, berlandaskan rasa kemanusiaan yang pasti setiap agama mengajarkannya,” ungkap Chotijah.

Chotijah berharap, kegiatan tersebut dapat terlaksana tidak hanya pada momentum bulan Ramadan saja, tapi terus selalu ada. Sehingga dapat mendorong organisasi sosial sipil lainnya untuk melakukan giat yang lebih aktif.

“Ini masih awal dan tidak apa apanya. Namanya harapan ini menjadi pemantik untuk kegiatan yang lebih aktif lagi dan giat lagi,” ungkapnya.

Leave a Reply