Merawat Tradisi Likuran Ala Masyarakat Islam Jawa di Dharmasraya

Sumber Foto: Antara

Ramadhan memang telah beranjak meninggalkan kita, tetapi ada satu hal yang selalu membuat saya ingat dengan bulan tersebut sejak saya kecil. Yaitu tradisi yang disebut selikuran atau akrab pula disebut dengan likuran yang berarti dua puluh. Likuran selalu dilaksanakan setiap bulan Ramadhan, tepat nya pada sepuluh malam terakhir. Tradisi ini merupakan perkawinan antara budaya dengan agama, yang bertujuan menyampaikan nilai-nilai agama melalui tradisi lokal. Tepatnya untuk memperingati datangnya malam lailatul qadar yang selalu dinanti oleh umat muslim, sebab kebaikannya istimewa lebih dari pada seribu bulan.

Konon tradisi likuran telah berkembang sejak zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram. Tradisi ini terus menerus dikembangkan oleh keraton sebagai pusat kebudayaan masyarakat Jawa. Hingga sekarang, likuran dapat dikenal serta diadopsi praktiknya oleh masyarakat Islam Jawa secara luas.

Beberapa daerah bahkan memiliki keunikannya tersendiri dalam mengadakan likuran, misalnya seperti di Desa Penggarit Jawa Tengah yang membagikan serabi saat likuran. Selain itu, di Pulau Sumatera juga memiliki keunikan masing-masing tiap daerah, ada yang merayakan likuran dengan pelita gemerlap, sampai kenduri dari rumah ke rumah seperti yang ada di Kepulauan Riau dan Palembang.

Begitu juga dengan kami yang kini menduduki tanah Sumatera sejak bedol desa 1976. Jorong Sungai Kalang II itulah namanya, terletak di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (dulu masih Kabupaten Sawahlunto Sijunjung). Meski tak semeriah di Yogya atau pun Riau, kami punya cara tersendiri dalam merawat likuran versi kami, malah terlihat sederhana. Ibu-ibu akan memasak beraneka ragam makanan, seperti ayam serta tempe bacem, mie goreng, sambal kentang, urap dan oseng-oseng untuk dibagikan atau ditukarkan (jika berlebih) melalui perantara musala/langgar. Masak memasak ini dilakukan oleh kedua (Rukun Tetangga) RT secara bergantian, setiap tanggal 21 dan 29 Ramadhan.

Di jorong kami, yang terbagi dua RT, sebut saja Barat (kulon) dan (etan) Timur. Tahun ini, RT kulon, mendapat jatah untuk memasak nasi dan lauk pada tanggal 29 Ramadhan. Artinya, giliran para ibu-ibu RT kulon bertanggung jawab untuk masak-memasak, sebab sebelumnya RT etan telah menunaikan tanggung jawabnya pada tanggal 21 Ramadhan yang telah lalu. Tiap tahun, kedua RT selalu bergiliran, jika tahun ini RT etan terlebih dahulu mendapat giliran di tanggal 21, maka tahun selanjutnya RT kulon, begitu seterusnya.

Nasi dan lauk pauk yang siap disajikan, dibungkus dan diantarkan ke musala sebelum waktu berbuka, biasanya sehabis ashar. Kemudian seusai salat maghrib, bisa diambil oleh jamaah yang telah menunaikan salat magrib berjamaah. Biasanya sini, kelompok yang masih rajin ke musala adalah bapak-bapak. Namun, dengan hadirnya likuran membuat muda-mudi juga tak kalah bersemangat menjemput bungkusan makanan sehabis salat. Sehingga sepulang dari langgar kaum mereka dapat menenteng hidangan untuk makan malam bersama keluarga masing-masing.

Setiba di rumah, kami langsung membuka isi bungkusan nasi beserta lauk pauk di atas meja makan. Momen ini menjadi ajang penjurian dari ibu saya. Beliau akan berkomentar mengenai makanan yang diperoleh bak juri Master Chef kemudian membandingkannya dengan masakan miliknya. Bagi ibu saya, mereka yang masakannya tak berasa bumbunya memang kurang niat memasak. Kebiasaan lucu ibu, sudah saya maklumi dari tahun ke tahun.

Tapi, bagi saya, tradisi likuran dengan tukar menukar makanan kental dengan nilai sosial. Karena ketika kita memperoleh lauk yang mungkin terasa kurang, seharusnya yang datang adalah empati. Sebab kita merasakan bagaimana kurangnya dari keluarga pemberi, yang telah susah payah menghemat bahan pokok mereka. Demi likuran mungkin mereka mati-matian menyisihkan sebagian uang mereka. Dan apabila memperoleh makanan yang luar biasa enak dan kaya bumbu serta daging, tentu kami bersyukur sebab merasakan kecukupan dari si keluarga pemberi makanan tersebut.

Likuran di Jorong Sungai Kalang bagi saya memberi makna bahwa mencicipi makan malam orang lain, sama seperti merasakan kondisi ekonomi orang lain. Tradisi ini tak sekadar berbagi dan bertukar nasi, untuk membuat perut begah saja. Tapi juga untuk mengasah empati dan jiwa sosial. Kita turut merasakan, makanan apa yang dirasakan orang lain saat berbuka. Mulai dari yang sederhana sampai dengan mewah sekali pun. Selain itu, silaturahmi antar rukun tetangga juga terjalin melalui kegiatan likuran ini.

Baca Juga