Ringkasan:
● Penyintas dipaksa memaafkan demi stabilitas sosial, meniadakan ruang marah dan menuntut kejelasan.
● Pemaafan paksa membebani penyintas dan menjadi alat pelindung kekerasan struktural.
● Memaafkan adalah pilihan otonom, bukan kewajiban, dan bukan satu-satunya jalan spiritual penyembuhan.
Oleh: Widi Iskandar Rangkuti | Konten ini diambil dari kolaborasi akun Instagram Jakatarub, SEJUK, dan 4 lainnya
Caption:
💙 Cerita Tapak Tilas Spiritual dalam memperingati 16 HAKTP kita selanjutnya datang dari kak Widi 🙌
Apakah Memaafkan Selalu Menjadi Jalan Spiritual yang Benar bagi Penyintas?
Kisah tentang pemaafan sering terasa seperti dongeng yang dibacakan berulang ulang sampai menjadi kewajiban moral. Begitu seorang perempuan mengalami kekerasan, suara suara di sekelilingnya segera memanggilnya menjadi “orang baik” yang harus merelakan masa lalu. Semua orang tampak lebih sibuk membimbing korban menuju kedamaian daripada menuntut pertanggungjawaban pelaku. Seolah luka bisa sembuh lebih cepat kalau korban memilih hati yang lapang.
———
Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) bersma Koalisi Bandung Lautan Damai sedang memperingati Hari Toleransi, 16 HAKTP dan Hari HAM di Bandung raya! Ikuti beragam inisiatifnya yang bisa dipantau di akun @bdglautandamai
Kawan-kawan juga bisa membagikan cerita di:
bit.ly/MenulisBersamaJAKATARUB
bit.ly/MenulisBersamaJAKATARUB
bit.ly/MenulisBersamaJAKATARUB
Siapapun boleh menulis 🙌
Gambar diambil di Public Work by Cosmos






Editor: Andrianor










Leave a Reply