Sekolah Agama dan Kepercayaan sebagai Strategi Literasi Lintas Iman dan Ketahanan Sosial di Cirebon
Ringkasan:
● SAK Fahmina menanamkan literasi lintas iman mendalam untuk mencegah prasangka dan konflik keagamaan.
● Alumni SAK berperan sebagai infrastruktur sosial yang memitigasi konflik dan prasangka antarumat beragama.
● Program SAK memperkuat ketahanan sosial dan identitas budaya Cirebon yang inklusif dan kosmopolitan.
Oleh: Rosidin | Republikasi dari Yayasan Fahmina
“Perdamaian tidak lahir dari slogan toleransi, melainkan dari pengetahuan yang utuh dan keberanian memahami yang berbeda.”
Fahmina secara konsisten merajut tenun toleransi melalui inisiatif Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK). Program ini bukan sekadar ruang kelas formal, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang telah berhasil meluluskan 50 alumni yang kini menjadi penggerak perdamaian di komunitasnya masing-masing yang tersebar di 10 kecamatan kabupaten Cirebon, wilayah yang memiliki keragaman agama serta tempat ibadah yang cukup beragam.
Setiap sesi dalam SAK dirancang sebagai pengalaman belajar yang intensif dan menyeluruh. Selama seharian penuh, para peserta diajak untuk menanggalkan prasangka dan membuka cakrawala melalui kurikulum yang dirancang untuk belajar bersama tokoh agama dan tempat ibadah dari agama tersebut. Mulai dari menelusuri akar sejarah, peserta mempelajari bagaimana agama dan kepercayaan tumbuh dan berkembang hingga masuk di wilayah Cirebon, membentuk identitas budaya yang kaya. Selanjutnya, peserta membedah ajaran dan ritual, perayaan keagamaan, serta nilai-nilai universal yang menjadi dasar kehidupan bersama. Jauh di atas sekadar teori, program ini membedah inti ajaran, tata cara ritual, hingga makna di balik setiap perayaan hari besar.
Metode pembelajaran yang berlangsung seharian penuh memungkinkan terjadinya dialog yang mendalam. Para peserta tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan denyut kehidupan beragama. Dengan memahami “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tetangga mereka beribadah, para alumni SAK memiliki kapasitas untuk menjadi jembatan komunikasi antarumat beragama.
SAK ini menjadi bukti nyata bahwa pengetahuan yang tepat mengenai keragaman adalah kunci utama untuk meruntuhkan tembok kecurigaan. Mereka kini dibekali dengan perspektif baru, bahwa perbedaan agama dan kepercayaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat struktur sosial masyarakat. Merayakan dua tahun perjalanannya, Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) yang diinisiasi oleh Fahmina telah berhasil melahirkan 50 alumni yang siap menjadi pelopor toleransi. Program ini menjadi oase di tengah tantangan keberagaman, memberikan ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal lebih dalam melampaui sekat-sekat perbedaan.
Dalam kacamata analisis Peacebuilding (Pembangunan Perdamaian), Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) yang dijalankan Fahmina bukan sekadar kegiatan edukasi biasa, melainkan sebuah intervensi strategis yang sangat signifikan. Signifikansi tersebut terlihat karena SAK dapat diposisikan sebagai instrumen peacebuilding dalam isu keragaman. Setidaknya terdapat beberapa argumentasi yang dapat diajukan:
1. Transformasi Konflik Melalui “Humanisasi” liyan
Secara teoritis, konflik sering kali berakar pada stereotip dan prasangka terhadap kelompok lain (the other). SAK bekerja pada level akar rumput dan kesadaran (grassroots and awareness). Dengan mempelajari sejarah, ritual, hingga nilai-nilai agama lain secara mendalam selama seharian penuh, peserta mengalami proses “humanisasi”. Agama lain yang sebelumnya dianggap asing atau mengancam, berubah menjadi tetangga yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang serupa. Ini adalah langkah awal pencegahan konflik yang sangat efektif.
2. Membangun Infrastruktur Perdamaian (Peace Infrastructure)
Keberhasilan melahirkan 50 alumni dalam dua tahun adalah pencapaian kuantitatif yang bermakna kualitatif. Dalam analisis peacebuilding John Paul Lederach, alumni ini adalah “aktor tengah” (middle-range leaders) yang memiliki akses ke komunitas lokal. 50 orang ini bukan sekadar angka, melainkan simpul dan lingkar perdamaian yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka adalah infrastruktur sosial yang akan bereaksi pertama kali untuk meredam ketegangan jika terjadi gesekan antarumat beragama di lapangan.
3. Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Batas (Cross-Religious Literacy)
Signifikansi SAK terletak pada kedalaman materinya. Kebanyakan program toleransi hanya menyentuh permukaan (hanya bersalaman atau makan bersama). Namun, SAK memaksa peserta untuk memahami hingga ke level nilai dan ritual. Ketika seseorang memahami mengapa sebuah ritual dilakukan, ia tidak akan lagi menganggapnya sebagai ancaman. Ini menciptakan apa yang disebut sebagai kematangan teologis, di mana seseorang bisa menjadi penganut agama yang taat tanpa harus membenci keyakinan orang lain.
4. Melawan “Segregasi Pengetahuan”
Di wilayah seperti Cirebon yang kaya akan sejarah keberagaman, seringkali terjadi “segregasi pengetahuan” di mana tiap kelompok hanya belajar tentang dirinya sendiri di ruang tertutup, berkembang secara eksklusif, sementara kelompok lain diposisikan sebagai tandingan. SAK mendobrak dinding ini. Dengan menghadirkan ajaran dan sejarah agama serta kepercayaan lokal secara transparan, SAK menciptakan ruang publik yang inklusif. Ini signifikan karena perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa tegak di atas pondasi pengetahuan yang benar, bukan sekadar ketidaktahuan yang dipaksakan (forced ignorance).
Hal lain yang tak kalah penting, SAK dapat dianggap sebagai laboratorium sosial. Ia mengubah kerentanan konflik menjadi ketahanan sosial (social resilience). Dengan memberikan pemahaman yang utuh—bukan sepotong-sepotong— Fahmina melalui SAK sedang membangun sistem kekebalan masyarakat terhadap virus intoleransi dan radikalisme.
Secara sosiologis, SAK membantu masyarakat menemukan kembali jati diri asli Cirebon sebagai kota pelabuhan yang secara historis sangat kosmopolitan dan menerima perbedaan. Dampak sosialnya adalah penguatan resiliensi budaya. Masyarakat menjadi lebih bangga dengan keberagamannya daripada menganggapnya sebagai beban. Hal ini membuat ideologi-ideologi garis keras yang mencoba memecah belah warga menjadi sulit untuk mendapatkan tempat.
Sementara dampak alumni SAK melalui kacamata peacebuilding berarti melihat bagaimana sebuah investasi kecil pada manusia dapat menghasilkan efek bola salju yang besar bagi stabilitas sosial di Cirebon. Dampak jangka panjang ini dapat diproyeksikan mengingat para alumni masih berusia muda. Dalam rentang 15 hingga 20 tahun ke depan, beberapa dampak berikut dapat diprediksi:
Munculnya “Early Warning System” Sosial
Alumni SAK berfungsi sebagai sensor di akar rumput. Dalam studi perdamaian, deteksi dini terhadap konflik sangatlah krusial. Ke-50 alumni ini, karena sudah memiliki pemahaman mendalam tentang berbagai agama dan kepercayaan, akan menjadi orang pertama yang mampu mengklarifikasi misinformasi atau hoaks terkait isu keagamaan di lingkungannya. Mereka berperan sebagai peredam (insulator) yang memitigasi percikan konflik sebelum membesar dan meluas.
Normalisasi Perjumpaan Lintas Iman
Salah satu dampak paling signifikan adalah hilangnya rasa canggung dalam berinteraksi. Alumni SAK membawa nilai-nilai yang mereka pelajari ke ruang-ruang privat mereka; keluarga, tempat kerja, dan organisasi keagamaan masing-masing. Mereka mulai menormalisasi kehadiran “yang berbeda” dalam kehidupan sehari-hari. Dampak jangka panjangnya adalah runtuhnya tembok segregasi sosial yang selama ini membuat masyarakat hidup berkelompok-kelompok (siloed communities).
Penguatan Modal Sosial (Social Capital)
Dalam analisis peacebuilding, terdapat konsep Bridging Social Capital (membangun hubungan di luar kelompok sendiri). 50 alumni ini adalah “jembatan hidup”. Dampaknya: Muncul kolaborasi-kolaborasi baru yang tidak lagi berbasis identitas agama atau isu agama. Misalnya, kerja sama lintas iman dalam aksi lingkungan, bakti sosial, atau pelestarian budaya Cirebon. Ketika masyarakat memiliki ketergantungan positif satu sama lain melalui jembatan yang dibangun alumni ini, biaya untuk berkonflik menjadi sangat mahal, sehingga perdamaian lebih terjaga.
Transformasi Narasi di Ruang Publik
Alumni SAK memiliki kapasitas untuk mengubah cara bicara tentang “agama lain” di ruang publik atau media sosial. Dengan pengetahuan tentang sejarah dan nilai-nilai yang benar, mereka mampu menghadirkan narasi tandingan (counter-narrative) terhadap ujaran kebencian. 50 orang yang bersuara dengan data dan empati jauh lebih berpengaruh daripada ribuan orang yang diam saat intoleransi terjadi. Ini bisa dilihat dari refleksi alumni di media sosialnya atas peristiwa-peristiwa intoleransi dan ekstremisme yang terjadi di Indonesia.
Memperkuat Resiliensi Budaya Lokal
Karena SAK fokus pada konteks wilayah Cirebon, para alumni secara tidak langsung menjadi penjaga warisan budaya “Cirebonan” yang inklusif. Mereka merevitalisasi nilai-nilai lokal seperti paseduluran (persaudaraan) yang melampaui batas keyakinan. Ini memberikan dampak jangka panjang berupa ketahanan identitas lokal yang kuat terhadap serangan ideologi transnasional yang kaku dan eksklusif.
Dalam jangka panjang, 50 alumni ini bukanlah akhir dari sebuah proses membangun perdamaian, melainkan benih dari sebuah gerakan. Mereka menciptakan ekosistem di mana perbedaan tidak lagi dianggap sebagai ancaman yang harus ditiadakan, melainkan realitas yang harus dikelola dengan ilmu dan rasa.
Editor: Andrianor












Leave a Reply