Informasi Jadwal Agenda Kegiatan Terkini

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Catatan atas Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia

Ringkasan:
● Mengenal Ahmadiyah secara langsung membantu meruntuhkan prasangka dan kesalahpahaman yang diwariskan.
● Keberagaman penulis dan perspektif menegaskan bahwa empati tumbuh dari perjumpaan dan keterbukaan.
● Perbedaan yang diterima sebagai keniscayaan menjadi fondasi hidup bersama yang inklusif dan manusiawi.

Oleh : Ahsan Jamet Hamidi

Minggu lalu, saya mengikuti peluncuran buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan. Buku dua jilid ini memuat tulisan dari 100 tokoh dan penulis yang seluruhnya berasal dari luar komunitas Ahmadiyah.

Sebagai penulis pemula sekaligus pembaca, saya merasakan betul adanya nada cinta, penuh empati dalam setiap kata yang tersaji. Setiap tulisan menghadirkan kehangatan dan kejujuran, seolah mengajak pembaca untuk memahami dengan hati yang terbuka.

Gaya penulisan para kontributor tentu beragam, sejalan dengan kodrat manusia yang tak pernah lepas dari perbedaan. Keragaman itu terasa semakin kaya karena para penulis datang dari latar belakang yang sangat beragam. Tidak hanya berbeda dalam afiliasi organisasi keagamaan, tetapi juga dalam hal usia, jenis kelamin, warna kulit, suku, dan berbagai identitas lainnya.

Perbedaan tidak hanya tampak pada gaya penulisan yang mencerminkan karakter masing-masing penulis, tetapi juga pada agama yang mereka anut. Perbedaan agama, termasuk paham keagamaan dan afiliasi organisasi keagamaan sengaja saya tekankan, sebab bagi sebagian orang yang kerap bersikap fanatik terhadap pilihannya, perbedaan itu sering kali menjadi pembatas yang membentuk tembok tebal dan menyempitkan ruang hidup mereka. Dalam konteks inilah, terkadang perbedaan itu berpotensi melahirkan persoalan dalam kehidupan keseharian. Ketika perbedaan tidak dipahami sebagai kenyataan yang niscaya, ia mudah menjelma menjadi sumber prasangka, penolakan, persekusi, bahkan konflik.

Perbedaan gaya penulisan, pilihan kata, diksi, dan bahasa dalam buku ini tidak akan menyulitkan pembaca untuk memahaminya. Pasalnya, seluruh tulisan telah melalui proses penyuntingan oleh Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar. Melalui sentuhan hati dan cinta dari keduanya, setiap tulisan terasa mengalir, renyah, dan nyaman dibaca. Pengalaman itu saya rasakan sendiri saat membaca tulisan saya di Buku Jilid II halaman 199. Dalam hati saya bergumam, “Kok jadi enak ya susunan kalimatnya….” Ungkapan batin sederhana itu menjadi bukti betapa peran editor sangat menentukan. Terima kasih kepada para editor yang telah memudahkan pembaca dalam memahami seluruh tulisan di buku ini.

Komunitas Ahmadiyah mulai hadir di bumi Nusantara sejak tahun 1925, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejak awal kedatangannya, Ahmadiyah memilih menempuh jalan damai serta membaktikan diri bagi kemaslahatan bangsa. Sebagaimana organisasi keagamaan lainnya, Ahmadiyah berkontribusi melalui berbagai bidang, antara lain pendidikan, layanan kemanusiaan, penguatan kerohanian, serta dialog lintas iman. Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan kesadaran bahwa perbedaan merupakan sunnatullah, dan hakikat keberagaman terletak pada pengabdian kepada Allah SWT serta pelayanan kepada sesama manusia. Pesan tertulis ini disampaikan oleh Zaki Firdaus Syahir selaku Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Saya mencatat pendapat Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama, yang disampaikan pada peluncuran sebuah buku terkait akar masalah munculnya beragam sikap warga non-Ahmadiyah. Ia mengakui bahwa Jemaat Ahmadiyah merupakan salah satu organisasi keagamaan Islam yang sangat solid di dunia.

Untuk dapat tergabung dalam jemaat ini, seseorang harus melalui proses baiat, yakni semacam janji kesetiaan dan ketaatan kepada pemimpin (imam, khalifah, atau ulama), selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, kepemimpinan dalam urusan keagamaan bagi para pengikutnya berjalan secara terstruktur, dengan jaringan yang saling terkoneksi hingga ke seluruh penjuru dunia.

Ia mengingatkan agar karakteristik tersebut tidak mendorong tumbuhnya sikap eksklusif di kalangan pengikut Ahmadiyah. Sebaliknya, para pengikut Ahmadiyah juga perlu bersikap terbuka serta mampu berbaur dalam lingkungan sosial yang inklusif. Misalnya, terdapat rumor yang kerap disampaikan oleh pihak-pihak yang selama ini tidak respek terhadap Ahmadiyah. Salah satunya adalah anggapan bahwa warga Ahmadiyah enggan menjadi makmum dalam shalat berjamaah yang dipimpin oleh non-Ahmadiyah, meskipun sesama Muslim. Anggapan semacam ini perlu dijelaskan secara terbuka dan gamblang.

Saya setuju dengan pandangan kritis mantan Menteri Agama tersebut, meskipun hal itu tidak saya temukan ketika berjumpa dengan Firduas Mubarik, salah seorang aktivis muda Ahmadiyah. Ia adalah sosok yang sangat terbuka, asyik, mudah bergaul dengan siapa saja, dan konsisten menggerakkan anak-anak muda Ahmadiyah untuk aktif serta bersikap inklusif. Mereka diajarkan untuk menerima perbedaan, bukan menjauh atau meniadakan orang yang berbeda. Ajaran seperti ini belum pernah saya temui di komunitas Ahmadiyah manapun yang saya temui.

Saya sangat setuju dengan pandangan Milastri Muzakkar, seorang perempuan pegiat literasi dan keberagaman untuk anak-anak muda. Mila berpesan bahwa, berdasarkan pengalamannya, orang yang membenci atau salah paham terhadap Muslim Ahmadiyah umumnya karena tidak benar-benar mengenal keyakinan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Sebagai warga Muhammadiyah, saya merasa terhormat saat diberi kesempatan ikut menulis kisah dari pengalaman nyata hidup saya di dalam buku ini. Ternyata saya tidak sendirian, ada banyak pengurus Muhammadiyah lain yang ikut menyumbang tulisan di dalam buku ini. Antara lain Prof. Abdul Mu’ti, Prof. Alimatul Qibtiyah, Prof. Ahmad Najib Burhani, Azaki Khoirudin, Yulianti Muthmainnah, Ahmad Fuad Fanani, Anda Nubowo, Yayah Khisbiyah, dan Ismail Hasani.

Pernyataan Mila di atas persis seperti pengalaman yang saya alami. Dulu, saya pun pernah keliru memahami Ahmadiyah karena minimnya bacaan dan pergaulan dengan komunitas mereka. Namun, setelah bermukim di Manislor, Kuningan, Jawa Barat, selama tiga hari dua malam dan aktif berkegiatan bersama mereka, muncul rasa cinta dan penghargaan yang mampu menghapus segala kekeliruan atau kesan negatif yang sebelumnya mungkin menebal — bahkan yang bisa berkembang menjadi prasangka, kecurigaan, atau kebencian.

Penutup

Jika saya berhasrat meniadakan perbedaan hanya karena dilandasi oleh kebenaran versi saya sendiri, maka saya pun harus siap meniadakan sebagian organ dari tubuh saya sendiri. Sebab, tubuh ini kerap kali memiliki kehendak yang berbeda dengan pikiran dan batin.

Ada kalanya niat hati ingin berlari pagi, tetapi tubuh menolak karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh raga hingga sulit digerakkan. Apakah, dalam keadaan seperti itu, saya harus meniadakan raga yang sedang tidak selaras dengan jiwa?

Selamat membaca tulisan-tulisan yang renyah, mengalir, dan ditulis dengan hati, sebagaimana tersaji dalam buku ini.

Editor: Andrianor