Oleh: Rikky Andriyanto | Republikasi dari Institut DIAN/Interfidei
Yogyakarta tidak pernah kehabisan cerita tentang perjumpaan dan pendidikan. Di kota ini, letak pondok pesantren yang merawat tradisi Islam Nusantara beririsan harmonis dengan lembaga pendidikan rohani agama lain. Salah satu institusi yang kerap mengundang tanya bagi masyarakat awam adalah Seminari Tinggi. Secara khusus, kehadiran Seminari Tinggi Santo Paulus di kawasan Kentungan, Yogyakarta, sering kali memantik rasa penasaran: Apakah kehidupan di seminari itu sama seperti di pondok pesantren?
Melalui kunjungan lapangan mahasiswa PL UIN Sunan Kudus di Institut Dian/Interfidei, serta berangkat dari pengalaman menjadi santri di salah satu Pesantren di Jepara, Jawa tengah, penulis mencoba menggambarkan titik temu, persamaan dan perbedaan antara Seminari Tinggi dan Pesantren hasil dari hasil kunjungan tersebut.
Tentang Masa Depan: Santri Pesantren dan Frater Seminari
Jika kita menilik ritme kesehariannya, tembok Seminari Tinggi dan bilik Pesantren menyimpan resonansi nada yang serupa. Keduanya adalah kawah candradimuka yang memisahkan anak-anak muda dari hiruk-pikuk duniawi untuk masuk ke dalam ritme hidup berasrama (boarding) yang sangat disiplin.
Di pesantren, denyut nadi kehidupan dimulai dari sepertiga malam terakhir, berlanjut ke salat Subuh, hingga pengajian kitab kuning. Demikian pula di Seminari Tinggi Santo Paulus. Para Frater (sebutan untuk calon Pastor) terikat pada jadwal harian yang ketat. Hari mereka diisi dengan Ibadat Harian (doa ofisi), Perayaan Ekaristi (Misa), pendalaman teologi, refleksi diam (silentium), dan kerja manual. Kesederhanaan, kemandirian, dan persaudaraan menjadi napas keseharian di kedua lembaga ini. Namun, di balik ragam persamaan yang indah itu, terdapat sebuah garis demarkasi yang paling mendasar mengenai tujuan akhir pendidikan. Ini adalah perbandingan yang paling esensial: Mereka yang menempuh jalan di Seminari Tinggi secara spesifik dipersiapkan untuk menjadi seorang Imam atau Romo, sementara seorang santri di pesantren belum tentu kelak menjadi Kyai.
Mari kita urai perbedaan ini. Pondok pesantren sejatinya adalah wadah pendidikan kehidupan. Meskipun ada pesantren yang secara spesifik mencetak ulama atau ahli agama (melalui pendalaman kitab suci, tafsir, dan fiqih tingkat tinggi), mayoritas santri di masa kini dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat dalam beragam profesi. Seorang santri bisa lulus menjadi dokter, politikus, seniman, pengusaha, atau akademisi, yang tentu saja tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman (akhlakul karimah). Predikat “Kyai” di pesantren tidak didapat semata-mata karena lulus dari sebuah jenjang pendidikan, melainkan sebuah pengakuan sosial dan spiritual dari masyarakat atas kedalaman ilmu agama dan keteladanan akhlak seseorang.
Di sisi lain, Seminari Tinggi (termasuk Santo Paulus Yogyakarta) adalah sebuah institusi vokasi rohani yang sangat spesifik dan berjenjang akhir. Sebelum sampai di tingkat ini, seseorang biasanya telah melewati Seminari Menengah (setingkat SMP-SMA) dan pendidikan Filsafat. Ketika seorang Frater menginjakkan kaki di Seminari Tinggi untuk belajar Teologi, tujuannya hanya satu: menjawab panggilan hidup selibat untuk ditahbiskan menjadi seorang Pastor, Imam, atau Romo. Kurikulum di Seminari Tinggi Santo Paulus pun dirancang secara mengerucut untuk kebutuhan penggembalaan umat. Jika di pesantren santri mengkaji beragam disiplin ilmu, baik agama maupun umum (pada pesantren modern) di sini para Frater menenggelamkan diri pada studi Teologi mendalam, Kitab Suci, Liturgi, Hukum Gereja, Psikologi Pastoral, serta praktik pelayanan umat (terjun langsung ke paroki atau daerah terpencil). Pembentukan karakter mereka difokuskan pada persiapan untuk merelakan seluruh hidupnya demi melayani Tuhan dan Gereja secara total, tanpa berkeluarga.
Anak Muda dalam Semangat Spiritualitas
Perbedaan arah tujuan ini memberikan corak yang unik pada kedua lembaga. Pesantren menyebar benih kebaikan melalui lulusannya yang berdiaspora ke segala lapisan masyarakat sipil. Sementara itu, Seminari Tinggi menjaga nyala api kepemimpinan spiritual Gereja dengan mencetak gembala-gembala yang siap merawat iman umat secara langsung. Menyelisik kehidupan Seminari Tinggi Santo Paulus dan Pondok Pesantren di Yogyakarta pada akhirnya membawa kita pada sebuah refleksi yang meneduhkan.
Meski muara profesinya berbeda, keduanya sama-sama bermuara pada pengabdian. Di saat dunia modern berlomba-lomba mencari materi, masih ada anak-anak muda di balik tembok pesantren dan seminari yang rela hidup dalam kesederhanaan, bergelut dengan teks suci, dan melatih ego mereka demi satu tujuan luhur: melayani Tuhan dan sesama manusia. Inilah kekayaan spiritualitas Indonesia yang patut kita jaga dan rayakan.
Sebuah Refleksi
Melihat persamaan antara Seminari Santo Paulus dan Pondok Pesantren membuka mata kita bahwa di balik perbedaan dogma agama, terdapat bahasa universal dalam mendidik karakter manusia. Ketertundukan pada aturan, penghormatan pada guru (Kyai di pesantren, Romo Pamong di seminari), serta persaudaraan solid yang lahir dari suka-duka hidup di asrama, adalah cetak biru pendidikan karakter yang luar biasa.
Mengetahui kehidupan “di seberang pagar” menjadi langkah penting dalam merawat toleransi. Kita tidak sedang menyamakan keyakinan, melainkan merayakan titik temu nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, dari bilik pesantren dan lorong seminari, Indonesia sama-sama menitipkan harapan besar akan lahirnya para tokoh dan pemimpin umat yang berakhlak mulia, toleran, dan senantiasa membawa damai.
Editor: Andrianor











Leave a Reply