Informasi Jadwal Agenda Kegiatan Terkini

Expo Religi 11 – Merakit: Menjaga Ragam Keyakinan dan Ikatan Tradisi

Ringkasan:
● LK3 Banjarmasin kembali sukses menyelenggarakan Expo Religi ke-11 untuk merawat keberagaman lintas iman.
● Ratusan pemuda lintas iman bergotong royong secara sukarela menyukseskan perjumpaan budaya tersebut.
● Ruang perjumpaan inklusif ini terbukti efektif memperkuat toleransi serta kerukunan masyarakat Banjarmasin.

Oleh: Noorhalis Majid | Republikasi dari Kalimantan Post

Tidak disangka dan tanpa terasa tahun ini Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin kembali berhasil menyelenggarakan Expo Religi untuk yang ke-11 kalinya. Bukan bilangan yang sedikit, sebab untuk menyelenggarakan satu kali saja, perlu upaya sungguh-sungguh, apalagi bila melihat basis dari penyelenggaraan tersebut adalah gotong royong dan keswadayaan.

Expo Religi kali ini, kembali mengambil tempat di Nol Kilometer. Acara berlangsung dari tanggal 25 hingga 27 September 2026, menyambung dan menjadi rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Seminar Nasional dan Konferensi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB), yang berlangsung dari 21 hingga 24 September 2026.

Karena menjadi rangkaian dari kegiatan KBB, maka pada saat pembukaan, sebuah pernyataan bersama yang isinya begitu tajam, dibacakan di hadapan para undangan yang hadir. Pernyataan tentang pentingnya menjaga dan memperjuangkan KBB, terutama di tengah pemerintahan dan kondisi demokrasi yang tidak baik-baik saja ini.

Tema expo yang diangkat kali ini adalah Merakit: Menjaga Ragam Keyakinan dan Ikatan Tradisi. Tema ini dirumuskan oleh anak-anak muda, dengan kesadaran bahwa di tengah berbagai bencana yang sedang terjadi, kita semua yang sadar, harus memperkuat ikatan tradisi dan agama, agar dapat melewati semua kesulitan, musibah, dan bencana yang sedang terjadi.

Ikatan yang semakin kuat, akan menjadikan segala persoalan dan tantangan terasa mudah. Apalagi ikatan tersebut didasari oleh kesadaran agama bahwa kita hidup di bumi yang sama, di banua yang sama dan tentu saja pada udara dan langit yang sama.

Bagi Banjarmasin tentu lebih spesifik; kita hidup di sungai yang sama, dengan aliran dan arus yang mengisahkan banyak cerita tentang kebersamaan dari suku, agama, dan budaya yang tinggal serta hidup di kota ini.

Kegiatan Expo Religi merupakan sarana perjumpaan berbagai agama dan keyakinan di ruang publik, diharapkan terbangun toleransi, kerukunan dan hidup damai di kota Banjarmasin yang sudah berusia 500 tahun.

Kota Banjarmasin telah hidup 5 abad, melewati berbagai dinamika dan pemerintahan yang berganti-ganti. Setidaknya sudah melewati 4 tata pemerintahan yang berbeda, yaitu zaman kerajaan atau kesultanan, zaman Hindia Belanda, Jepang, dan era kemerdekaan yang berlangsung hingga sekarang.

Dengan zaman yang berbeda-beda dan begitu panjang tersebut, hampir tidak ada catatan tentang konflik agama, menggambarkan bahwa kesadaran akan pentingnya keragaman dan kebersamaan, sudah tumbuh sejak dahulu kala.

Berdasarkan laporan yang disampaikan panitia, dalam expo kali ini terdapat 38 stand pameran yang terdiri berbagai agama atau keyakinan. Terdapat panggung pagelaran budaya yang menampilkan lebih dari 115 penampilan dengan melibatkan lebih dari 800 talent.

Semua yang tampil mengisi stand pameran dan panggung budaya tersebut, tanpa dibayar. Mereka meramaikan expo dengan segala kesadaran, bahwa expo merupakan ajang perjumpaan yang harus diramaikan dengan segala suka cita.

Perjumpaan di ruang publik seperti expo, mesti diciptakan sesering mungkin, sehingga menjadi pembelajaran tentang pentingnya kebersamaan dibangun, agar hidup jadi lebih damai dan saling menghargai.

Selain pameran dan panggung budaya, juga diselenggarakan berbagai lomba, antara lain lomba busana nusantara dan lomba mewarnai. Puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak, antusias memeriahkan lomba. Lomba ini tentu saja bukan dalam kaitan menoreh level “prestasi”, tapi sekedar meramaikan, dan menjadi titik perjumpaan dari anak-anak yang berbeda latar belakang suku, agama dan budaya.

Yang tidak kalah menarik dari penyelenggaraan Expo Religi ini, adalah terkait panitia penyelenggara itu sendiri. Melibatkan sekitar 80 anak-anak muda lintas iman, dari berbagai latar agama yang ada di Banjarmasin. Bekerja dengan semangat kerelawanan, bersama-sama bergotong royong, menyukseskan acara yang telah mereka siapkan lebih dari tiga bulan lalu.

Bahkan ada yang menjadi panitia lebih dari satu kali. Berkali-kali mau menjadi panitia, padahal tanpa dibayar, karena merasa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, dan berhasil menciptakan sarana perjumpaan di ruang publik bagi agama-agama.

Kerja sama yang telah mereka bangun dalam mempersiapkan kegiatan, merupakan “dialog” tak ternilai yang membekas selamanya, membentuk sikap toleransi dan keterbukaan untuk bekerjasama dengan saudara yang berbeda keimanan.

Bukankah dialog yang paling tinggi itu adalah kerja sama. Mungkin dialog antariman sudah sering terjadi, namun kerja sama melampaui dialog itu sendiri. Apalagi kerja bersama-sama, menyiapkan satu perhelatan besar yang membutuhkan kesabaran, ketenangan, di mana setiap orang harus toleran dan menurunkan egonya masing-masing, hingga berjumpa pada satu titik frekuensi yang sama, melahirkan satu keharmonisan.

Apresiasi terbesar tentu tertuju pada penyelenggara, panitia yang mempersiapkan acara ini. Anak-anak muda, dengan semangat kebersamaannya, melayani tanpa memandang agama, suku, ras dan budaya. Tujuan mereka satu, yaitu suksesnya perhelatan Expo Religi.

Pada setiap stand yang menyuguhkan berbagai informasi dan produk, juga dilayani oleh anak-anak muda. Dengan demikian, expo ini benar-benar wahana bagi sebagian besar anak muda untuk berjumpa. Dari perjumpaan itu, diharapkan lahir generasi yang saling menghargai segala bentuk perbedaan. Bukan generasi yang saling meminggirkan, mengalahkan. Apalagi sampai berlaku tidak adil dan diskriminatif dengan alasan agama.

Hampir semua anak muda yang terlibat dalam kepanitiaan ini menyatakan kegiatan ini sangat keren, hebat, dan luar biasa. Apalagi bagi yang baru pertama kali terlibat. Memberikan pengalaman berharga bagi siapa pun anak muda yang terlibat, sebab menjadi wahana berinteraksi dengan semua kawan yang berbeda keimanan.

Dengan acara dan pagelaran yang begitu rapi dan padat, apalagi berada di lokasi yang memang menjadi perjumpaan warga, berhasil mengundang puluhan ribu pengunjung datang menyaksikan Expo Religi. Mereka menikmati berbagai pertunjukan kebudayaan dan kesenian, serta berbelanja pada stand-stand UMKM yang menyediakan berbagai jajanan.

Dihadiri banyak pengunjung, Expo Religi menjadi literasi yang terbuka bagi siapa pun tentang merawat perbedaan.

Datang, berkunjung, melihat, menyaksikan, lantas mau berinteraksi dengan semua yang berbeda-beda, merupakan pendidikan kesadaran akan keragaman.

Tidak perlu banyak teori menyangkut pendidikan keragaman, cukup datang ke Expo Religi dan mau berinteraksi, membuka mata dan pikiran lebih luas, maka ajang expo itu sendiri sudah menjadi laboratorium bersama dalam memahami pentingnya keragaman.

Karena itu, tidak berlebihan dan tepat saja bila panitia mengambil tema Merakit: Menjaga Ragam Keyakinan dan Ikatan Tradisi.

Editor: Andrianor