Ibu (Juga) Korban Penutupan Rumah Ibadah!

Penulis: Venus Nareswari

Editor : Risdo Simangunsong

“Ibu mau perang atau mau damai?”

Gema suara tersebut menghantui seisi ruangan disertai gebrakan meja yang cukup kuat, juga tangisan seorang bayi.

Peristiwa itu dialami oleh Pdt. Obertina Johanis, 21 Agustus 2005, di GKP Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Waktu setempat menunjukkan pukul 10.00 pagi, segelintir orang datang sembari membawa keresahan atas peribadatan di tempat ini. Dengan dalih tempat ini tidak memenuhi izin. Mereka resah atas percayanya mereka yang beda dengan mereka, mereka resah Imannya akan goyah karena mereka, mereka resah dengan orang Kristen.

Di negeri kita, posisi ibu merupakan posisi yang luhur— posisi yang dikritik Barat sebab meski luhur, ibu tidak otonom. Mau otonom bagaimana jika ekonomi masih bergantung suami? Ibu juga tidak mempunyai kontrol atas tubuhnya sendiri, untuk memasang IUD sebagai bagian dari program KB saja ibu harus tanya suami. Ibu kemudian menjadi tidak bicara dalam konteks individual. Ibu cenderung selalu bicara atas nama komunitas—keluarga, tetangga, dan lain-lain.

Dalam konteks penutupan rumah ibadah, ibu tidak banyak berbicara atas penderitaannya. Mereka akan berbicara tentang anaknya, suaminya, keluarganya. Padahal, ibu juga korban dalam penutupan rumah ibadah. Beban yang dirasakan ibu tentu berbeda dengan apa yang dirasakan laki-laki.

Sesaat setelah peristiwa itu terjadi, beban ibu bertambah. Di mana ibu harus menitipkan anak-anak mereka? Bagaimana nanti mereka bersekolah? Bagaimana jika suami ‘tertangkap’? Apakah harus menyiapkan makan siang untuk hari ini? Banyak kemungkinan lain menjadi beban pikiran bagi para ibu. Mungkin prioritas suami adalah mengamankan, tapi prioritas ibu masih dalam kendali reproduksi: keamanan ‘perut’ keluarga, anak, dan suami. Bukan tentang dirinya.

Seringnya ibu merasa bahwa hal itu merupakan kewajibannya. Para pria yang seolah berhak untuk berbicara kepada media apa yang telah menimpa jemaat.

Tapi, ibu juga korban. Di bawah sistem patriarki, suara ibu diredam. Pengalaman dan penderitaan mereka jarang terdokumentasi atau bahkan diakui. Ibu jarang memiliki ruang untuk mengungkapkan apa yang mereka rasa dan alami. Ibu adalah korban dari sistem, sistem yang katanya memberdaya tapi malah memperdaya.


Tulisan ini berasal dari artikel dengan judul yang sama di laman Jakatarub; disalin tanpa penyuntingan berarti di web KBB.id untuk tujuan pendidikan.

Baca Juga